Ujung Benteng

'Ancol' Sarolangun

'Ancol' Sarolangun

Betapa pegalnya hati ini mendengar pengalaman hidup salah satu guru kami yang telah menginjak usia lebih dari separuh abad. Beliau menjadi saksi pembangunan kota kabupaten Sarolangun yang terkenal sebagai daerah dengan pembangunan yang amat pesat semenjak berada di bawah pimpinan bupati Hasan Basri Agus (HBA).
Dibalik jayanya Sarolangun, terdapat cerita menyedihkan yang menunjukkan betapa masih hausnya masyarakat dan pemerintah terhadap materi tanpa mempedulikan nilai sejarah yang tersimpan di bawah tanah Sarolangun.
Sebagai pendatang, saya sering mendengar penduduk-penduduk asli tentang nama-nama tempat yang tidak sesuai dengan nama daerah itu secara resmi. Misalnya di tempat tinggal saya di daerah Sukasari, orang-orang sering menyebutnya ‘Ujung Benteng’. Dan jembatan lama yang melintangi Sungai Tembesi bernama Jembatan Beatrix.
Awalnya saya tidak mengerti, kenapa di daerah yang mayoritas dihuni orang-orang ‘dusun’ atau tertinggal dari peradaban itu bisa menamai tempat sebegitu keren.
Setelah saya berkunjung ke rumah salah satu guru SD adik saya, saya baru tahu, ternyata Sarolangun dulunya memang sangat keren.
Pak Guru itu menceritakan bahwa dulunya seluruh kawasan pasar di kota Sarolangun adalah sebuah bangunan benteng Peninggalan Belanda. Namun bangunan sebesar itu dengan entengnya–seolah tanpa nilai sejarah–dirubuhkan pada saat Sarolangun masih berupa sebuah kecamatan, ironisnya hanya demi pembangunan kawasan pasar tradisional yang kumuh dan tak terawat.
Padahal, menurut Pak Guru itu, jika benteng tersebut dipertahankan dan dibuat menjadi objek wisata, benteng itu akan menjadi benteng peninggalan Belanda terbesar di Sumatera. Bahkan benda-benda yang tertinggal di benteng itu saja tak tersisa.
Selain bangunan benteng itu, ada juga terowongan bawah tanah, yang kata Pak Guru itu, memiliki tinggi 7 meter, lebar 7 meter, dan panjang berkilo-kilo meter, dulunya digunakan Belanda untuk menyiksa kaum pribumi. Terowongan itu jauh lebih besar daripada Gua Jepang yang sangat terkenal di Provinsi Sumatera Barat. Namun sama nasibnya dengan benteng itu, terowongan bawah tanah ini pun tak banyak diketahui oleh masyarakat sekitar seolah benar-benar telah hilang ditelan bumi.
Sejarah memang sesuatu yang misterius, tidak pasti kebenarannya, dan yang tersisa hanyalah potongan-potongan kecil–seperti serpihan gelas kaca yang pecah–yang sangat sulit untuk dirangkai menjadi satu kesatuan yang utuh. Dan jika kita bisa merangkainya kembali secara utuh, pastilah sejarah itu menjadi sejarah raksasa, mengingat bangsa kita kaya akan sejarah, kaya akan harta karun, dan kaya akan orang-orang yang haus akan uang dan mengorbankan peninggalan sejarahnya.

Advertisements
Categories: Must Be Shared | Tags: , | 1 Comment

Post navigation

One thought on “Ujung Benteng

  1. bunga pertiwi

    Kecewa sama masyarakat sarolangun dulu, mengapa tidak..???
    Hanya demi kepuasan diri, dikorbankan apa yang seharusnya jadi kebanggaan untuk sarolangun sekarang.

Tell me, everything in your heart :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Melukis Bianglala

menggores warna lewat kata

Nitto Amigurumi Grosir Rajut

Unique knitted and quality

aninditasaktiaji.com

Anindita Saktiaji Personal Website

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Think about me!

A little too much overthink

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

A Sanctuary

Explore the beauty of Indonesia. Go to places where people don't know your language

izzatyzone

time to refresh my mind ^^

De Reizen

Tuliskan Apa yang Kamu Rasa, Rasakan Apa yang Kamu Tulis!

Puzzle of Life

karena hidup terdiri dari kepingan-kepingan cerita, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan

Zwei

There is no greater agony than bearing an untold story inside you.

Times New Woman

Fiction & Fiction

bruziati

dunia dalam kata

travelux

Travel In Style

kamar depan

tuannico

ExploReadMe

Book blog by @triskaidekaman

triskaidekaman.com

Read, watch, feel, experience!

Hero of The Drama

Bukan drama queen. Bukan pahlawan kesiangan. Aku jagoan.

Austenprose - A Jane Austen Blog

Join the celebration of Jane Austen novels, movies, sequels and the pop culture she has inspired

The shape of my heart

“Even a broken heart doesn't warrant a waste of good paper.” - Dodie Smith

Catatan Tia

aku nulis apa yang kubaca dan kutonton, terutama science fiction dan fantasi!

Adithia Renata Rakasiwi

Berkaya Sesuai Nurani

Penabdurrahman

Catatan seorang hamba

lukman tanjung

'writing is like diving more deeply into the ocean of your thoughts'

DETECTIVES ID

Sleuth Fiction Enthusiast. Berbagi Informasi Seputar Cerita Detektif

Jurnal Absurd Nano

menulis apapun yang terlintas

The Writersaurus

Adventures in Writing, Editing, and Publishing

There And Draft Again

A Fellowship of Fantasy Writers

The Librarian Who Doesn't Say Shhh!

Opening books to open minds.

Klara's Street

Street Photography From Berlin

My Secret Garden

Now not so secret ..welcome to my little corner of the Internet - if indeed it has corners

Implicado

..nos involucramos en todos los eventos de la vida, con o sin intencion... participamos en el juego de la vida y permanecemos implicados...

Lost in a Great Book

A blog about books. Oh, and some other stuff too.

Even A Girl Like Me

A Preacher's Kid... Prodigal Daughter... Sinner Saved by Grace... Redeemed...Recovered...Renewed

Russel Ray Photos

Life from Southern California, mostly San Diego County

My Book Reviews Corner

Tempat si Bookaholic berceloteh tentang buku, buku dan buku.

perpuskecil.wordpress.com/

some books to share from my little library

Ini-Itu Buku Anak

Membaca buku anak, kenapa tidak?

RAK BUKUKU

catatan pekerjaan, buku, dan suntingan

Festival Pembaca Indonesia 2017

2 Desember 2017, Perpustakaan Dikbud, Jakarta

%d bloggers like this: