A Lazy Cat’s Diary

Hai, semua. Namaku Delon, seekor kucing yang ganteng. Aku hidup di sebuah rumah besar yang terletak jauh dari keramaian kota. Di rumah ini tinggal sepasang kakek dan nenek, mereka mendedikasikan masa pensiun mereka untuk merawat banyak kucing di rumah mereka ini.

Inilah diriku, Delon ^_^

Yah, harus kuakui, Tuan Besar tak terlalu punya rasa simpati pada kucing, tapi semua kucing di rumah ini sangat menghormatinya. Sedangkan Nyonya Besar selalu memberi kami makan. Ia juga cemas jika kami mulai mengeong-ngeong, ia mengira kami lapar dan akhirnya kami diberi makan lagi. Ia tak tahu, kami memang selalu ingin makan!

Mereka hanya berdua mengurus kami, kecuali pada masa liburan sekolah karena cucu-cucu mereka akan berkumpul di sini. Dan itu artinya, kami harus bersiap selalu diuber-uber oleh mereka, mengurangi jam tidur kami dari 16 jam menjadi 10 jam saja karena mereka selalu mengganggu tidur kami, tapi kami senang karena jadi lebih banyak pendonor tulang ayam pada kami.

Kamar-kamar yang tadinya kosong dan berdebu pun akan disulap menjadi kamar-kamar gadis yang rapi dan wangi, tempat yang nyaman bagi kami untuk tidur siang. Mereka pun tak keberatan dengan kehadiran kami di kamarnya, mereka pecinta kucing sejati.

Well, itu sedikit latar belakang kelahiranku di rumah ini. Ibuku adalah seekor kucing tua yang telah melahirkan banyak generasi dan sebagian besar anaknya sudah mati saat masih kecil! Ibuku bernama Babon, warna bulunya sama sekali tak sama denganku. Ia belang abu-abu sangat pudar, sangat pudar sekali sampai ada seorang tamu yang berkata, “Apa kucing itu terlalu sering dimandikan? Sampai luntur begitu bulunya?”

Ibuku adalah seekor kucing bisu. Maksudku, dia tidak pernah mengeong. Salah satu saudara ibuku, Belong—yang benar-benar bermata belong—juga hampir tidak pernah mengeluarkan suara. Warna bulunya sama dengan warna bulu ibuku. Aku berhipotesis, percampuran gen yang sial bisa menghasilkan jenis baru seperti ibuku ini. Ehem, yah, aku memang agak lebih tidak bodoh di antara kucing-kucing lain di rumah ini. Aku banyak bereksperimen, seperti mencicipi apakah coklat lebih enak daripada ayam goreng, apakah tidur di kamar anak gadis lebih enak daripada tidur di dapur, atau apakah memanjat kursi makan pada saat Tuan Besar sedang makan lebih menguntungkan daripada duduk menengadah mengharap belas kasihan di lantai.

Oh ya, aku hampir lupa. Aku seharusnya bercerita dulu bagaimana aku bisa terlahir. Ibuku sudah cukup tua saat ia mengandung aku dan kedua saudariku. Ia tak bisa melahirkan sendirian, dia butuh bidan! Dalam hal ini, putri bungsu Tuan Besar. Di tengah malam, ibuku berjalan ke kamar bidannya itu—yang tidak tertutup karena sudah bersiaga jika seandainya ibuku melahirkan—lalu ibuku naik ke atas tempat tidur sang nyonya bidan. Sang Nyonya segera terjaga, ia tahu sudah waktunya ibuku untuk melahirkan.

Ibuku diajak ke dapur, tempat di mana semua aktivitas kucing dilakukan, makan, tidur, beranak, sampai buang air. Sebuah kardus dengan tumpukan kain perca disiapkan. Detik-detik menegangkan dilalui ibuku.

“Satu! Warnanya hitam putih!” seru Sang Nyonya senang. Aku telah terlahir ke dunia.

“Dua! Yang ini putih dengan sedikit warna hitam dan kuning!”

Saudariku, Delun, lahir menyusulku.

“Tiga! Waah…yang ini belang tiga!”

Saudari bungsuku, Sinil, akhirnya lahir.

3 mousekeepers

Inilah aku dan dua saudariku ^_^

Kebahagiaan mewarnai rumah itu. Tuan dan Nyonya Besar menganggap kucing-kucingnya adalah bagian dari keluarga mereka juga. Setelah kami bertiga cukup besar untuk mulai keluar dari sarang, mereka telah menyiapkan ‘toilet’ khusus untuk kami. Toilet itu terbuat dari kaleng bekas yang diberi tangkai kayu dan dibentuk menjadi sekop, lalu diberi pasir di atasnya. Ibu kami juga mengajari kami buang air yang baik di toilet itu. Sayang sekali toilet itu cuma satu, jadi kami harus mengantri setiap pagi untuk buang air.

Sebagai anggota baru di rumah ini, kami segera akrab dengan anak-anak ibu sebelumnya. Ada si kucing cantik Sunul, yang berwarna putih dan belang abu-abu, bulunya panjang-panjang dan sangat lembut, tapi sangat tomboy. Saat buang air kecil, dia melakukannya seperti kucing jantan. Saudarinya Sunul bernama Inul. Kakinya tidak sepanjang Sunul, tapi ia lebih gemuk dari Sunul. Corak Inul sama sekali berbeda dengan Sunul. Warnanya coklat kelabu dan bulunya agak kasar. Ujung-ujung tubuhnya berwarna lebih gelap, seperti moncong, ekor, dan kaki-kakinya. Api Inul lebih ramah dari Sunul.

Ada satu kucing jantan yang baru dewasa, anaknya ibuku juga, namanya Lanang. Dia berbulu belang abu-abu. Dan kucing jantan di atasnya lagi, ada Birong. Mungkin dalam tulisan Bahasa Inggris, kucing ini bernama Be Wrong. Itu karena dia terlalu aneh. Warnanya sama dengan Inul (kurasa dia bapaknya Inul), dan dia tidak punya ekor. Sejak lahir memang sudah begitu, tapi banyak orang yang bertamu berkata, majikan kucing ini pasti orang yang sangat kejam sampai-sampai memotong ekor kucingnya.

Tuan Besar tak hanya memelihara kucing, tapi juga burung. Seekor burung kuning yang bersuara nyaring, namanya Wondo.

Wondo “Suzanna II”

Kurasa dia adalah burung teraneh yang pernah kukenal. Setiap pagi dia menjerit-jerit parau jika belum diberi makan. Dan kau tahu apa makanannya? Kuncup bunga melati! Hanya kuncup bunga melati, saudara-saudara! Diganti menjadi bunga melati mekar saja tidak mau! Dan setelah diberi makan, dia baru mau berkicau, mengeluarkan suara terbaiknya.

Aku jadi berpikir, oleh karena dia hadir di rumah ini beberapa waktu setelah hebohnya berita meninggalnya Suzanna, aktris horor Indonesia itu, jangan-jangan Wondo adalah jelmaannya. Lihat, makanannya sama, bunga melati. Haha, manusia manapun pasti menganggapku bodoh. Tentu saja, aku cuma seekor kucing, saudara-saudara!

Advertisements
Categories: Cat | Tags: , , , , , | Leave a comment

Post navigation

Tell me, everything in your heart :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Nitto Amigurumi Grosir Rajut

Unique knitted and quality

aninditasaktiaji.com

Anindita Saktiaji Personal Website

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

FIKSI LOTUS

Kumpulan Cerpen Klasik Dunia

Melukis Bianglala

menggores warna lewat kata

Think about me!

A little too much overthink

Saatnya Bercerita

Jangan pernah menulis sesuatu yang kelak akan membuatmu menyesal

A Sanctuary

Explore the beauty of Indonesia. Go to places where people don't know your language

izzatyzone

time to refresh my mind ^^

De Reizen

Tuliskan Apa yang Kamu Rasa, Rasakan Apa yang Kamu Tulis!

Puzzle of Life

karena hidup terdiri dari kepingan-kepingan cerita, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan

Zwei

There is no greater agony than bearing an untold story inside you.

Northern Sunlight

Travel | Food | Life

Times New Woman

Fiction & Fiction

bruziati

dunia dalam kata

travelux

Travel In Style

kamar depan

tuannico

ExploReadMe

Book blog by @triskaidekaman

triskaidekaman.com

Read, watch, feel, experience!

Hero of The Drama

Bukan drama queen. Bukan pahlawan kesiangan. Aku jagoan.

Austenprose - A Jane Austen Blog

Join the celebration of Jane Austen novels, movies, sequels and the pop culture she has inspired

The shape of my heart

“Even a broken heart doesn't warrant a waste of good paper.” - Dodie Smith

Catatan Tia

aku nulis apa yang kubaca dan kutonton, terutama science fiction dan fantasi!

Adithia Renata Rakasiwi

Berkaya Sesuai Nurani

Penabdurrahman

Catatan seorang hamba

lukman tanjung

'writing is like diving more deeply into the ocean of your thoughts'

DETECTIVES ID

Sleuth Fiction Enthusiast. Berbagi Informasi Seputar Cerita Detektif

Jurnal Absurd Nano

menulis apapun yang terlintas

The Writersaurus

Adventures in Writing, Editing, and Publishing

There And Draft Again

A Fellowship of Fantasy Writers

The Librarian Who Doesn't Say Shhh!

Opening books to open minds.

Klara's Street

Street Photography From Berlin

My Secret Garden

Now not so secret ..welcome to my little corner of the Internet - if indeed it has corners

Implicado

..nos involucramos en todos los eventos de la vida, con o sin intencion... participamos en el juego de la vida y permanecemos implicados...

Lost in a Great Book

A blog about books. Oh, and some other stuff too.

Even A Girl Like Me

A Preacher's Kid... Prodigal Daughter... Sinner Saved by Grace... Redeemed...Recovered...Renewed

Russel Ray Photos

Life from Southern California, mostly San Diego County

My Book Reviews Corner

Tempat si Bookaholic berceloteh tentang buku, buku dan buku.

perpuskecil.wordpress.com/

some books to share from my little library

Ini-Itu Buku Anak

Membaca buku anak, kenapa tidak?

RAK BUKUKU

catatan pekerjaan, buku, dan suntingan

Festival Pembaca Indonesia 2016

10-11 Desember 2016, Museum Nasional, Jakarta

%d bloggers like this: